Ketika Grup Musik Padi “Berevolusi” Menjadi Rubah

12 November 2008

Siapa tidak kenal grup musik Padi. Lirik lagu band ini cukup gurih di telinga. Bait-bait liriknya menyentuh perasaan meski hanya di permukaannya saja, tidak sampai ke dalam hati. Hal itu ditunjang dengan penampilan personilnya yang relatif “beda” dari grup-grup band “ABG” yang baru muncul terus mendadak tenar, lalu entah bisa bertahan sampai kapan kita tidak tahu. Grup musik Padi cukup bagus mempertahankan soliditas personil dan menjaga karakter musik dan liriknya.

Hitnya yang cukup terkenal berjudul “Sang Penghibur.” Dalam video klipnya, digambarkan seorang perempuan berpakaian seperti lakon wayang orang atau wayang kulit, sambil menenteng panah nyasar di sebuah kota besar. Kayaknya kota New York atau Paris yach, saya sendiri tidak mengetahui di mana shooting video klip itu di lakukan. Baca entri selengkapnya »


Beberapa Kesalahan Menulis yang Sering Terjadi

11 November 2008

Buat yang doyan nulis tapi masih amatiran, tulisan ini “wajib” dibaca buat bekal menjadi penulis handal. Ada beberapa kesalahan dalam cara penulisan yang sering ditemui di internet maupun di buku cetak.

Pemakaian kata depan dan imbuhan “di”

Ini yang paling sering terjadi, ternyata banyak orang Indonesia yang tidak bisa membedakan mana “di” yang bertindak sebagai kata depan dan mana “di” yang bertindak sebagai imbuhan. “DI” sebagai KATA DEPAN adalah untuk memperjelas atau menunjukkan tempat, contoh: di Jakarta, di sana, di mana, di sini, dll.

Sedangkan “DI” untuk IMBUHAN biasanya digunakan untuk kalimat pasif dan diimbuhkan ke kata kerja contoh: dikerjai, ditampar, dilempar. Yang banyak terjadi adalah, pada saat harus menuliskan “di” sebagai imbuhan, si penulis malah menuliskan dengan format kata depan dan jg sebaliknya. Contoh : di lempar, dijakarta, mobil ini di jual, dsb. Baca entri selengkapnya »


‘Negoisasi’ dengan Kesalahan

6 November 2008

SEBUAH tayangan TV diakui atau tidak mempunyai dampak yang besar bagi penontonnya. Setidaknya itu yang sering saya alami. Tidak terkecuali saat saya dan seorang teman menonton tayangan berita kriminal di sebuah stasiun televisi swasta. Sang pembawa acara yang saat itu membacakan berita tentang usaha polisi membebaskan seorang anak dari penculik kemudian menyebut kata negoisasi. Kata sederhana yang terdiri dari sembilan huruf itu menjadi bahan adu mulut di antara kami. Saya ngotot itu adalah kata yang salah karena kata itu tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Teman saya, dengan tidak kalah ngotot, mengatakan itulah kata yang tepat. Alasan dia sederhana, bukankah kata itu sering didengar di TV, dibaca di koran, bahkan di media daring. Selain itu, dia memberi fakta yang lebih ‘ilmiah’, kata dia, kata negoisasi berasal dari kata nego artinya kompromi dan unsur -isasi yang membentuk kata proses. Intinya, menurut kawan saya, negoisasi berarti proses berkompromi.

Wah, ‘ajaib’ sekali penjelasan kawan saya itu. Faktanya, media massa (TV, koran, majalah, maupun media daring) sebenarnya ‘kurang kuat’ jika digunakan sebagai acuan belajar bahasa yang baik dan benar. Kenapa? Ya, karena kata negoisasi dan beberapa kesalahan kecil, namun memfosil dan dianggap benar yang sering muncul dalam media-media tersebut.  Baca entri selengkapnya »


Beberapa Kesalahan Bahasa Jurnalistik

6 November 2008

Oleh: Dad Murniah
Kepala Subbid Informasi Pusat Bahasa, Depdiknas.

Bagi para penulis dan jurnalis (wartawan), bahasa adalah senjata, dan kata-kata adalah pelurunya. Mereka tidak mungkin bisa memengaruhi pikiran, suasana hati, dan gejolak pe-rasaan pembaca, pendengar, atau pemirsanya, jika tidak menguasai bahasa jurnalistik dengan baik dan benar.

Itulah sebabnya, para penulis dan jurnalis harus dibekali penguasaan yang memadai atas kosa kata, pilihan kata, kalimat, paragraf, gaya bahasa, dan etika bahasa jurnalistik.

Bahasa jurnalistik harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti tampil menarik, variatif, segar, berkarakter. Selain itu, ia juga harus senantiasa tampil ringkas dan lugas, logis, dinamis, demokratis, dan populis.
Dalam bahasa jurnalistik, setiap kata harus bermakna, bahkan harus bertenaga, dan bercita rasa. Kata bertenaga dengan cepat dapat membangkitkan daya motivasi, persuasi, fantasi, dan daya imajinasi pada benak khalayak. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.