‘Negoisasi’ dengan Kesalahan

SEBUAH tayangan TV diakui atau tidak mempunyai dampak yang besar bagi penontonnya. Setidaknya itu yang sering saya alami. Tidak terkecuali saat saya dan seorang teman menonton tayangan berita kriminal di sebuah stasiun televisi swasta. Sang pembawa acara yang saat itu membacakan berita tentang usaha polisi membebaskan seorang anak dari penculik kemudian menyebut kata negoisasi. Kata sederhana yang terdiri dari sembilan huruf itu menjadi bahan adu mulut di antara kami. Saya ngotot itu adalah kata yang salah karena kata itu tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Teman saya, dengan tidak kalah ngotot, mengatakan itulah kata yang tepat. Alasan dia sederhana, bukankah kata itu sering didengar di TV, dibaca di koran, bahkan di media daring. Selain itu, dia memberi fakta yang lebih ‘ilmiah’, kata dia, kata negoisasi berasal dari kata nego artinya kompromi dan unsur -isasi yang membentuk kata proses. Intinya, menurut kawan saya, negoisasi berarti proses berkompromi.

Wah, ‘ajaib’ sekali penjelasan kawan saya itu. Faktanya, media massa (TV, koran, majalah, maupun media daring) sebenarnya ‘kurang kuat’ jika digunakan sebagai acuan belajar bahasa yang baik dan benar. Kenapa? Ya, karena kata negoisasi dan beberapa kesalahan kecil, namun memfosil dan dianggap benar yang sering muncul dalam media-media tersebut. 
Kata negoisasi tentu saja tidak ada dalam KBBI, bahkan tidak juga dalam kamus bahasa Inggris. Yang ada adalah kata negosiasi yang berarti proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dan pihak yang lain; penyelesaian sengketa dengan jalan damai. Kata tersebut diserap dari bahasa Inggris negotiate, bukan kata nego yang ditambah unsur -isasi karena unsur itu bukanlah unsur serapan dalam bahasa Indonesia.

Selain kasus negoisasi atau negosiasi, kesalahan kecil namun memfosil dan dianggap benar karena sering muncul di media adalah penggunaan kata disinyalir dan mengkritisi. Kata tersebut memang terdengar cerdas sehingga sering kali digunakan. Terbukti, saat saya mencoba menyelusuri penggunaan kata-kata tersebut hanya di media daring dengan mesin pencari Google, angka penggunaan yang muncul cukup banyak, negoisasi muncul sebanyak 26.900 kali, disinyalir dipakai dalam 199.000 artikel, sedangkan mengkritisi ada sebanyak 147.000. Meskipun sering muncul, apakah media massa cukup cerdas dalam menggunakan ketiga kata tersebut? Coba kita lihat dalam contoh kalimat sebagai berikut:

“Isu merek susu dan makanan bayi yang disinyalir terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii kembali.” (Kompas Cyber Media, 22 Maret 2008)

“Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Sidharto Danusubroto mengkritisi lemahnya pertahanan negara di wilayah perbatasan.” (Tempo Interaktif, 13 April 2008)

Dalam KBBI memang ada kata sinyalir dan mensinyalir yang berarti memperingatkan supaya memperhatikan; berawas-awas. Kata disinyalir sendiri tidak ada dalam KBBI. Namun, dalam contoh kalimat tersebut, kata disinyalir lebih dimaksudkan untuk menyatakan dugaan, sangat jauh dari arti kata sinyalir. Alih-alih menggunakan kata disinyalir, kalimat itu seharusnya menggunakan kata diduga atau ditengarai.

Hal sama juga terjadi pada kata mengkritisi. Ada beberapa lema dalam KBBI yang berkaitan dengan kata mengkritisi, yakni kritis (tajam dalam penganalisisan), kritisi (kaum kritikus), kritikus (orang yang ahli dalam memberikan pertimbangan), kritik (kecaman/tanggapan yang disertai pertimbangan), dan mengkritik (mengemukakan kritik; mengecam). Dari sekian banyak lema yang ada dalam KBBI, saya tidak menemukan lema mengkritisi. Jika kata mengkritisi dalam kalimat tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan arti memberi kritikan, itu salah. Penggunaan kata mengkritisi adalah salah kaprah dari kata kritisi. Padahal, jika ingin mengungkapkan makna memberi kritikan, KBBI memberi entri mengkritik.

Ketiga contoh kata tersebut bisa saja hanya sebagian kecil dari kesalahan-kesalahan yang muncul di media massa. Di sisi lain, masyarakat yang awam menganggap itu benar karena mereka beranggapan bahwa media bisa menjadi panduan dalam menemukan kosakata baru yang mutakhir. Bahwa sebuah kata yang meskipun salah, jika sering muncul, akan dianggap benar. Itulah yang disebut memfosilkan kesalahan bahasa. Pertanyaannya, apakah kita butuh kata mutakhir tapi salah kaprah dan tidak cerdas dalam penggunaan? Saya tentu saja lebih memilih kata diduga, mengkritik, dan negosiasi yang benar. Bagaimana dengan Anda?

Oleh Ni Nyoman Dwi Astarini, Staf Bahasa Media Indonesia
sumber: www.mediaindonesia.com

2 Responses to ‘Negoisasi’ dengan Kesalahan

  1. I Made Sudiana mengatakan:

    Mana yang benar, mengkritik atau mengritik?

  2. redaktorial mengatakan:

    Kata dasarnya ‘kritik’, dengan huruf awalnya ‘k’, huruf ‘k’ bertemu dengan awal ‘me’ diubah menjadi ‘ng’, yang benar ‘mengritik’. contoh lain: kuat, jadi ‘menguat’, kangkang jadi mengangkang.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.