<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Redaktorial</title>
	<atom:link href="http://redaktorial.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://redaktorial.wordpress.com</link>
	<description>Segala yang Berkaitan dengan Keredaksian</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Nov 2008 16:40:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='redaktorial.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Redaktorial</title>
		<link>http://redaktorial.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://redaktorial.wordpress.com/osd.xml" title="Redaktorial" />
	<atom:link rel='hub' href='http://redaktorial.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Grup Musik Padi &#8220;Berevolusi&#8221; Menjadi Rubah</title>
		<link>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/12/ketika-grup-musik-padi-berevolusi-menjadi-rubah/</link>
		<comments>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/12/ketika-grup-musik-padi-berevolusi-menjadi-rubah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 16:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaktorial</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enak Didengar Tapi Salah]]></category>
		<category><![CDATA[Imbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Kosakata]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Tata Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Keliru Memilih Kata]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu Padi]]></category>
		<category><![CDATA[Merubah]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Penghibur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redaktorial.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tidak kenal grup musik Padi. Lirik lagu band ini cukup gurih di telinga. Bait-bait liriknya menyentuh perasaan meski hanya di permukaannya saja, tidak sampai ke dalam hati. Hal itu ditunjang dengan penampilan personilnya yang relatif &#8220;beda&#8221; dari grup-grup band &#8220;ABG&#8221; yang baru muncul terus mendadak tenar, lalu entah bisa bertahan sampai kapan kita tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=15&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tidak kenal grup musik Padi. Lirik lagu band ini cukup gurih di telinga. Bait-bait liriknya menyentuh perasaan meski hanya di permukaannya saja, tidak sampai ke dalam hati. Hal itu ditunjang dengan penampilan personilnya yang relatif &#8220;beda&#8221; dari grup-grup band &#8220;ABG&#8221; yang baru muncul terus mendadak tenar, lalu entah bisa bertahan sampai kapan kita tidak tahu. Grup musik Padi cukup bagus mempertahankan soliditas personil dan menjaga karakter musik dan liriknya.</p>
<p>Hitnya yang cukup terkenal berjudul &#8220;Sang Penghibur.&#8221; Dalam video klipnya, digambarkan seorang perempuan berpakaian seperti lakon wayang orang atau wayang kulit, sambil menenteng panah nyasar di sebuah kota besar. Kayaknya kota New York atau Paris yach, saya sendiri tidak mengetahui di mana shooting video klip itu di lakukan.<span id="more-15"></span></p>
<p>Pada lagu &#8220;Sang Penghibur&#8221;, ada beberapa baik liriknya yang membuat hati saya cekikikan menahan geli dan tawa. Coba anda baca bait-bait liriknya di bawah ini:</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Setiap perkataan yang menjatuhkan tak lagi ku dengar dengan sungguh<br />
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Aku bukan seorang yang mengerti tentang kelihaian membaca  hati<br />
Aku cuma pemimpi kecil yang berangan tuk </em><span style="color:#ff0000;"><strong>merubah</strong></span><em> nasibnya &#8230;. dan seterusnya&#8230;.</em></p>
<p>Coba perhatikan kata yang saya warnai merah di atas.</p>
<p>Pada iramanya, kata itu diucapkan dengan lantang, keras, dan dengan suara yang tinggi, karena akan masukke bait berikutnya yang akan dilantunkan dengan suara yang tinggi pula. Keadaan ini membuat saya semakin cekikian. Keindahan lirik dan iramanya yang menawan tidak mampu menghilangkan kegelian saya  pada kata tersebut.</p>
<p>Siapa pun yang mendengar lirik lagu itu, pasti mengartikan kata itu dengan &#8220;perubahan&#8221;; dari keadaan yang buruk ke keadaan yang baik; dari satu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik. Akan tetapi, kesalahan dalam pemakaian awalan dan tidak memerhatikan hukum tata bahasa Indonesia yang benar, membuat kata itu melenceng sangat jauh dari makna yang diinginkan oleh si pembuat lirik.</p>
<p>&#8220;Perubahan&#8221; berasal dari kata dasar &#8220;ubah&#8221;. Perhatikan bahwa huruf pertamanya adalah &#8220;u&#8221; bukan &#8220;r&#8221;. Kata lain dengan huruf pertama &#8220;u&#8221; contohnya, urus. Jika ditambahi dengan awalan &#8220;me&#8221;, ia akan menjadi &#8220;mengurus.&#8221; Kata &#8220;ubah&#8221; pun demikian, ketika diberi awalan &#8220;me&#8221; ia akan menjadi &#8220;mengubah&#8221; bukan &#8220;merubah.&#8221; Ini adalah kata kerja.</p>
<p>Kalau &#8220;merubah&#8221; artinya bukan perubahan, terus apa artinya?</p>
<p>Awalan &#8220;me&#8221;, jika masuk di awal suatu kata dasar, ia memiliki banyak makna, di antara artinya adalah &#8220;menjadi.&#8221; Contoh, awalan &#8220;me&#8221; masuk di awal kata &#8220;cair&#8221;, jadinya &#8220;mencair&#8221;, artinya = menjadi cair.</p>
<p>Arti awalan &#8220;me&#8221; jika masuk di awal suatu kata dasar bisa juga berarti sifat. Contoh, Dia adalah presiden yang &#8220;merakyat.&#8221; Artinya, dia adalah seorang presiden yang dekat dengan rakyatnya.</p>
<p>Kata &#8220;merubah&#8221; tersusun dari satu buah awalan dan satu buah kata dasar. Awalannya adalah &#8220;me&#8221; kata dasarnya adalah &#8220;rubah&#8221;. Anda pasti tahu bahwa rubah adalah binatang buas yang ada di hutan. Jika awalan &#8220;me&#8221; dilekatkan ke kata dasar &#8220;rubah&#8221; ia akan menjadi &#8220;merubah&#8221;, artinya bisa salah satu dari dua hal ini = menjadi rubah, atau menjadi dekat dengan rubah.</p>
<p>Itulah sebabnya mengapa hati saya terpingkal-pingkal mendengar lirik lagu Padi itu. Banyak orang yang menikmati keindahan irama dan liriknya, tetapi tidak banyak yang sadar akan kesalahan si penulis lirik dalam memakai tata bahasa Indonesia yang benar. Hasilnya, melenceng jauh dari makna yang diharapkan dan menceburkan diri ke dalam tradisi berbahasa yang sudah salah, yang berarti ikut melestarikan kesalahan tersebut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redaktorial.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redaktorial.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redaktorial.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redaktorial.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redaktorial.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redaktorial.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redaktorial.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redaktorial.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redaktorial.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redaktorial.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redaktorial.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redaktorial.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redaktorial.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redaktorial.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=15&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/12/ketika-grup-musik-padi-berevolusi-menjadi-rubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a3ea3316c39cb38753e21a813287ee2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaktorial</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Kesalahan Menulis yang Sering Terjadi</title>
		<link>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/11/beberapa-kesalahan-menulis-yang-sering-terjadi/</link>
		<comments>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/11/beberapa-kesalahan-menulis-yang-sering-terjadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 01:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaktorial</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salah Tulis Kata]]></category>
		<category><![CDATA[awalan]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa slank]]></category>
		<category><![CDATA[imbuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redaktorial.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Buat yang doyan nulis tapi masih amatiran, tulisan ini &#8220;wajib&#8221; dibaca buat bekal menjadi penulis handal. Ada beberapa kesalahan dalam cara penulisan yang sering ditemui di internet maupun di buku cetak. Pemakaian kata depan dan imbuhan &#8220;di&#8221; Ini yang paling sering terjadi, ternyata banyak orang Indonesia yang tidak bisa membedakan mana &#8220;di&#8221; yang bertindak sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=12&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat yang doyan nulis tapi masih amatiran, tulisan ini &#8220;wajib&#8221; dibaca buat bekal menjadi penulis handal. Ada beberapa kesalahan dalam cara penulisan yang sering ditemui di internet maupun di buku cetak.</p>
<h4>Pemakaian kata depan dan imbuhan &#8220;di&#8221;</h4>
<p>Ini yang paling sering terjadi, ternyata banyak orang Indonesia yang tidak bisa membedakan mana &#8220;di&#8221; yang bertindak sebagai kata depan dan mana &#8220;di&#8221; yang bertindak sebagai imbuhan. &#8220;DI&#8221; sebagai KATA DEPAN adalah untuk memperjelas atau menunjukkan tempat, contoh: di Jakarta, di sana, di mana, di sini, dll.</p>
<p>Sedangkan &#8220;DI&#8221; untuk IMBUHAN biasanya digunakan untuk kalimat pasif dan diimbuhkan ke kata kerja contoh: dikerjai, ditampar, dilempar. Yang banyak terjadi adalah, pada saat harus menuliskan &#8220;di&#8221; sebagai imbuhan, si penulis malah menuliskan dengan format kata depan dan jg sebaliknya. Contoh : di lempar, dijakarta, mobil ini di jual, dsb.<span id="more-12"></span></p>
<h4>Pengunaan tanda (.) titik untuk singkatan nama</h4>
<p>Tanda titik bisa juga digunakan untuk menunjukkan singkatan, contoh: ada seseorang yang bernama Bams Sok Ganteng. Kalau ingin disingkat, kita bisa menuliskan dengan Bams S. Ganteng. Akan tetapi, kasus salah tulis yang sering terjadi adalah: Bams. S Ganteng</p>
<h4>Imbuhan dan akhiran yang digunakan bersamaan</h4>
<p>Kadang ada kata2 yang menggunakan awalan dan akhiran yang digunakan secara bersamaan, seperti: Mencampuradukan, Ketenagakerjaan, dll. Tetapi sering terjadi kesalahan penulisan dengan memisahkan kedua kata tersebut, contoh: mencampur adukan, ketenaga kerjaan, dll.</p>
<h4>Menggunakan bahasa slank yang kurang tepat</h4>
<p>Akhir2 ini sy paling sebel mendengarkan kata &#8220;secara&#8221; karena kata &#8220;secara&#8221; ini sering digunakan dengan kalimat yang tidak benar atau kurang tepat. Contoh: &#8220;secara gw itu ganteng&#8221;, &#8220;secara dia tuh pemilik kosan&#8221;, &#8220;secara tubuh tuh tumbuhnya ke atas, bukan ke samping (diiklankan lagi), padahal kata &#8220;secara&#8221; ini adalah untuk menjelaskan &#8220;cara&#8221; dari sesuatu. Contoh pemakaiannya yang benar: &#8220;Dimasukkan secara perlahan-lahan agar tidak sakit (jangan ngeres loh:))&#8221;, &#8220;Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya secara cepat.&#8221;</p>
<p>Buat yang sering memakai kata &#8220;secara&#8221; bukan pada tempatnya, &#8220;tobat&#8221; deh secepatnya, sudah salah pake ditebelin lagi&#8230; Jaka Sembung mecahin botol, Kagak nyambung tolol!</p>
<p>Sumber: http://forum.detik.com/showthread.php?p=5194887</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redaktorial.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redaktorial.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redaktorial.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redaktorial.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redaktorial.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redaktorial.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redaktorial.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redaktorial.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redaktorial.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redaktorial.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redaktorial.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redaktorial.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redaktorial.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redaktorial.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=12&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/11/beberapa-kesalahan-menulis-yang-sering-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a3ea3316c39cb38753e21a813287ee2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaktorial</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Negoisasi&#8217; dengan Kesalahan</title>
		<link>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/06/negoisasi-dengan-kesalahan/</link>
		<comments>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/06/negoisasi-dengan-kesalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 02:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaktorial</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Kosakata]]></category>
		<category><![CDATA[Salah Pengucapan]]></category>
		<category><![CDATA[Salah Tulis Kata]]></category>
		<category><![CDATA[negoisasi]]></category>
		<category><![CDATA[negosiasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redaktorial.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH tayangan TV diakui atau tidak mempunyai dampak yang besar bagi penontonnya. Setidaknya itu yang sering saya alami. Tidak terkecuali saat saya dan seorang teman menonton tayangan berita kriminal di sebuah stasiun televisi swasta. Sang pembawa acara yang saat itu membacakan berita tentang usaha polisi membebaskan seorang anak dari penculik kemudian menyebut kata negoisasi. Kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=7&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBUAH tayangan TV diakui atau tidak mempunyai dampak yang besar bagi penontonnya. Setidaknya itu yang sering saya alami. Tidak terkecuali saat saya dan seorang teman menonton tayangan berita kriminal di sebuah stasiun televisi swasta. Sang pembawa acara yang saat itu membacakan berita tentang usaha polisi membebaskan seorang anak dari penculik kemudian menyebut kata negoisasi. Kata sederhana yang terdiri dari sembilan huruf itu menjadi bahan adu mulut di antara kami. Saya ngotot itu adalah kata yang salah karena kata itu tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Teman saya, dengan tidak kalah ngotot, mengatakan itulah kata yang tepat. Alasan dia sederhana, bukankah kata itu sering didengar di TV, dibaca di koran, bahkan di media daring. Selain itu, dia memberi fakta yang lebih &#8216;ilmiah&#8217;, kata dia, kata negoisasi berasal dari kata nego artinya kompromi dan unsur -isasi yang membentuk kata proses. Intinya, menurut kawan saya, negoisasi berarti proses berkompromi.</p>
<p>Wah, &#8216;ajaib&#8217; sekali penjelasan kawan saya itu. Faktanya, media massa (TV, koran, majalah, maupun media daring) sebenarnya &#8216;kurang kuat&#8217; jika digunakan sebagai acuan belajar bahasa yang baik dan benar. Kenapa? Ya, karena kata negoisasi dan beberapa kesalahan kecil, namun memfosil dan dianggap benar yang sering muncul dalam media-media tersebut. <span id="more-7"></span><br />
Kata negoisasi tentu saja tidak ada dalam KBBI, bahkan tidak juga dalam kamus bahasa Inggris. Yang ada adalah kata negosiasi yang berarti proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dan pihak yang lain; penyelesaian sengketa dengan jalan damai. Kata tersebut diserap dari bahasa Inggris negotiate, bukan kata nego yang ditambah unsur -isasi karena unsur itu bukanlah unsur serapan dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Selain kasus negoisasi atau negosiasi,  kesalahan kecil namun memfosil dan dianggap benar karena sering muncul di media adalah penggunaan kata disinyalir dan mengkritisi. Kata tersebut memang terdengar cerdas sehingga sering kali digunakan. Terbukti, saat saya mencoba menyelusuri penggunaan kata-kata tersebut hanya di media daring dengan mesin pencari Google, angka penggunaan yang muncul cukup banyak, negoisasi muncul sebanyak 26.900 kali, disinyalir dipakai dalam 199.000 artikel, sedangkan mengkritisi ada sebanyak 147.000. Meskipun sering muncul, apakah media massa cukup cerdas dalam menggunakan ketiga kata tersebut? Coba kita lihat dalam contoh kalimat sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Isu merek susu dan makanan bayi yang disinyalir terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii kembali.&#8221; (Kompas Cyber Media, 22 Maret 2008)</p>
<p>&#8220;Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Sidharto Danusubroto mengkritisi lemahnya pertahanan negara di wilayah perbatasan.&#8221; (Tempo Interaktif, 13 April 2008)</p>
<p>Dalam KBBI memang ada kata sinyalir dan mensinyalir yang berarti memperingatkan supaya memperhatikan; berawas-awas. Kata disinyalir sendiri tidak ada dalam KBBI. Namun, dalam contoh kalimat tersebut, kata disinyalir lebih dimaksudkan untuk menyatakan dugaan, sangat jauh dari arti kata sinyalir. Alih-alih menggunakan kata disinyalir, kalimat itu seharusnya menggunakan kata diduga atau ditengarai.</p>
<p>Hal sama juga terjadi pada kata mengkritisi. Ada beberapa lema dalam KBBI yang berkaitan dengan kata mengkritisi, yakni kritis (tajam dalam penganalisisan), kritisi (kaum kritikus), kritikus (orang yang ahli dalam memberikan pertimbangan), kritik (kecaman/tanggapan yang disertai pertimbangan), dan mengkritik (mengemukakan kritik; mengecam). Dari sekian banyak lema yang ada dalam KBBI, saya tidak menemukan lema mengkritisi. Jika kata mengkritisi dalam kalimat tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan arti memberi kritikan, itu salah. Penggunaan kata mengkritisi adalah salah kaprah dari kata kritisi. Padahal, jika ingin mengungkapkan makna memberi kritikan, KBBI memberi entri mengkritik.</p>
<p>Ketiga contoh kata tersebut bisa saja hanya sebagian kecil dari kesalahan-kesalahan yang muncul di media massa. Di sisi lain, masyarakat yang awam menganggap itu benar karena mereka beranggapan bahwa media bisa menjadi panduan dalam menemukan kosakata baru yang mutakhir. Bahwa sebuah kata yang meskipun salah, jika sering muncul, akan dianggap benar. Itulah yang disebut memfosilkan kesalahan bahasa. Pertanyaannya, apakah kita butuh kata mutakhir tapi salah kaprah dan tidak cerdas dalam penggunaan? Saya tentu saja lebih memilih kata diduga, mengkritik, dan negosiasi yang benar. Bagaimana dengan Anda?</p>
<p>Oleh Ni Nyoman Dwi Astarini, Staf Bahasa Media Indonesia<br />
sumber: www.mediaindonesia.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redaktorial.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redaktorial.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redaktorial.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redaktorial.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redaktorial.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redaktorial.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redaktorial.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redaktorial.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redaktorial.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redaktorial.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redaktorial.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redaktorial.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redaktorial.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redaktorial.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=7&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/06/negoisasi-dengan-kesalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a3ea3316c39cb38753e21a813287ee2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaktorial</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Kesalahan Bahasa Jurnalistik</title>
		<link>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/06/beberapa-kesalahan-bahasa-jurnalistik/</link>
		<comments>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/06/beberapa-kesalahan-bahasa-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 02:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaktorial</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Kosakata]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redaktorial.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dad Murniah Kepala Subbid Informasi Pusat Bahasa, Depdiknas. Bagi para penulis dan jurnalis (wartawan), bahasa adalah senjata, dan kata-kata adalah pelurunya. Mereka tidak mungkin bisa memengaruhi pikiran, suasana hati, dan gejolak pe-rasaan pembaca, pendengar, atau pemirsanya, jika tidak menguasai bahasa jurnalistik dengan baik dan benar. Itulah sebabnya, para penulis dan jurnalis harus dibekali penguasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=5&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">Oleh: <strong>Dad Murniah</strong><br />
Kepala Subbid Informasi Pusat Bahasa, Depdiknas.</p>
<p style="text-align:left;">Bagi para penulis dan jurnalis (wartawan), bahasa adalah senjata, dan kata-kata adalah pelurunya. Mereka tidak mungkin bisa memengaruhi pikiran, suasana hati, dan gejolak pe-rasaan pembaca, pendengar, atau pemirsanya, jika tidak menguasai bahasa jurnalistik dengan baik dan benar.</p>
<p>Itulah sebabnya, para penulis dan jurnalis harus dibekali penguasaan yang memadai atas kosa kata, pilihan kata, kalimat, paragraf, gaya bahasa, dan etika bahasa jurnalistik.</p>
<p>Bahasa jurnalistik harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti tampil menarik, variatif, segar, berkarakter. Selain itu, ia juga harus senantiasa tampil ringkas dan lugas, logis, dinamis, demokratis, dan populis.<br />
Dalam bahasa jurnalistik, setiap kata harus bermakna, bahkan harus bertenaga, dan bercita rasa. Kata bertenaga dengan cepat dapat membangkitkan daya motivasi, persuasi, fantasi, dan daya imajinasi pada benak khalayak.<span id="more-5"></span></p>
<p>Pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok. Pertama, ketepatan memilih kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal, atau barang yang akan diamanatkan. Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara.<br />
Ketepatan memilih kata dapat dicapai apabila kita sebagai penulis atau jurnalis menguasai dengan baik masalah etimologi, semantik, tata bahasa, ejaan, frasa, klausa, istilah, ungkapan, idiom, jargon, singkatan, akronim, peribahasa, kamus, dan ensiklopedia.</p>
<p>Kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam menggunakan kata tadi. Hal ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis tata bahasa, faktor psikologis narasumber dan jurnalis, konteks situasi dan maksud pesan yang disampaikan, serta aspek-aspek etis, etnis, dan sosiologis khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.</p>
<h3>Menyimpang dari Kaidah</h3>
<p>Bahasa jurnalistik atau bahasa pers, memang merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa bisnis, ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra).</p>
<p>Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan dalam menulis karya-karyanya di media massa. Tulisan itu pun memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenisnya.</p>
<p>Bahasa yang digunakan untuk menuliskan laporan investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan yang digunakan dalam penulisan features. Ada pula gaya yang yang khas pada penulisan jurnalisme perdamaian. Yang digunakan untuk menulis berita utama (ada yang menyebut laporan utama, forum utama) juga akan berbeda dengan bahasa untuk menulis tajuk dan features.</p>
<p>Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu), bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Kosa kata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.</p>
<p>Surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Maka bahasa jurnalistik harus dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal. Juga tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar, maka bahasa jurnalistik mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang dibawa kepada pembaca secepatnya dengan daya komunikasinya.<br />
Muncul keluhan bahwa bahasa Indonesia di media massa menyimpang dari kaidah baku. Banyak ditemukan kemubaziran bahasa wartawan pada aspek gramatikal (tata bahasa), leksikal (pemilihan kosakata) dan ortografis (ejaan). Berdasarkan aspek kebahasaan, kesalahan tertinggi yang dilakukan wartawan terdapat pada aspek gramatikal dan kesalahan terendah pada aspek ortografi. Berdasarkan jenis berita, berita olahraga memiliki frekuensi kesalahan tertinggi dan frekuensi kesalahan terendah pada berita kriminal.<br />
Penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor penulis karena minimnya penguasaan kosa kata, pengetahuan kebahasaan yang terbatas, dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa, karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Faktor di luar penulis, yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu menulis, lama kerja, banyaknya naskah yang dikoreksi, dan tidak tersedianya redaktur bahasa dalam surat kabar.</p>
<h3>Mencerdaskan dan Memuliakan</h3>
<p>Penyimpangan morfologis, misalnya, di mana sering terjadi pada judul berita surat kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan.</p>
<p>Ada juga kesalahan sintaksis, yaitu berupa pemakaian tata bahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus.</p>
<p>Kesalahan kosakata pun sering terjadi. Kesalahan ini sering dilakukan dengan alasan kesopanan (eufemisme) atau meminimalkan dampak buruk pemberitaan. Kesalahan ejaan hampir setiap kali dijumpai dalam surat kabar.</p>
<p>Yang cukup mengganggu adalah kesalahan pemenggalan. Terkesan setiap ganti garis pada setiap kolom kelihatan asal penggal saja. Kesalahan ini disebabkan pemenggalan bahasa Indonesia masih menggunakan program komputer berbahasa Inggris. Hal ini sudah bisa diantisipasi dengan program pemenggalan bahasa Indonesia.</p>
<p>Untuk menghindari beberapa kesalahan seperti diuraikan di atas adalah melakukan kegiatan penyuntingan baik menyangkut pemakaian kalimat, pilihan kata, dan ejaan. Selain itu, pemakai bahasa jurnalistik yang baik tercermin dari kesanggupannya menulis paragraf yang baik.</p>
<p>Untuk menulis paragraf yang baik tentu memerlukan persyaratan menulis kalimat yang baik pula. Paragraf yang berhasil tidak hanya lengkap pengembangannya tetapi juga menunjukkan kesatuan dalam isinya. Paragraf menjadi rusak karena penyisipan-penyisipan yang tidak bertemali dan pemasukan kalimat topik kedua atau gagasan pokok lain ke dalamnya.</p>
<p>Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa. Dengan fungsi yang demikian itu, bahasa jurnalistik itu harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal.</p>
<p>Mengacu pada JS Badudu, bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar, dan jelas. Itu mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.</p>
<p>Demikianlah, bahasa adalah senjata seorang jurnalis, dan kata-kata adalah pelurunya. Seorang jurnalis tidak boleh menggunakan senjata untuk membunuh orang dan bahkan binatang yang tidak berdosa. Ia hanya boleh menggunakan senjata itu untuk mencerdaskan dan memuliakan masyarakat serta membela dan menjunjung tinggi kehormatan negara dan bangsa.</p>
<p>Sumber: www.sinarharapan.co.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redaktorial.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redaktorial.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redaktorial.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redaktorial.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redaktorial.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redaktorial.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redaktorial.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redaktorial.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redaktorial.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redaktorial.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redaktorial.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redaktorial.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redaktorial.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redaktorial.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redaktorial.wordpress.com&amp;blog=5421790&amp;post=5&amp;subd=redaktorial&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redaktorial.wordpress.com/2008/11/06/beberapa-kesalahan-bahasa-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a3ea3316c39cb38753e21a813287ee2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaktorial</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
